Anemia pada ibu hamil dan remaja putri sangat penting untuk dicegah. Upaya pencegahan dilaksanakan melalui penerapan konsumsi makanan bergizi seimbang, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), fortifikasi dan pengobatan penyakit infeksi.
Makanan beragam adalah berbagai makanan yang dikonsumsi dari beragam kelompok pangan (makanan pokok, lauk pauk, sayur dan buah) maupun dalam setiap kelompok pangan. Pastikan bahwa didalam menu sehari-hari mengandung sumber pangan hewani, yang merupakan sumber zat besi. Zat besi berperan dalam pembentukan hemoglobin dan myoglobin, untuk membawa oksigen dan pernafasan sel.
Kebutuhan zat gizi masing-masing kelompok umur berbeda-beda, untuk melihat Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada ibu hamil dan remaja putri dapat dilihat dalam PMK no. 28 tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi. Klik di sini untuk unduh.
Agar penyerapan zat besi non heme lebih efektif, disarankan untuk mengonsumsi makanan sumber vitamin C yang merupakan promotor penyerapan zat besi. Vitamin C banyak terdapat pada sayuran dan buah – buahan antara lain brokoli, kembang kol, paprika, jeruk, tomat, jambu, strawberry, dll.
Tumpeng Gizi Seimbang lebih menggambarkan empat pilar gizi seimbang secara umum, dan menekankan pada keragaman dan proporsi berbagai kelompok pangan dalam satu hari.
ISI PIRINGKU lebih digunakan sebagai panduan untuk melihat penerapan porsi dan jenis makanan yang ada di dalam piring setiap kali makan sesuai dengan Gizi Seimbang.
Dalam sekali makan jumlah porsi sayuran dan buah sebanding dengan porsi nasi ditambah lauk-pauk.
• 2/3 porsi makanan pokok. • 2/3 porsi porsi sayur.
• 1/3 porsi lauk pauk dan 1/3 buah buahan
Selain itu, kebutuhan cairan juga harus dipenuhi dengan cara minum setiap kali makan dan disesuaikan dengan kebutuhan. Kebutuhan cairan untuk ibu hamil sekitar 8-12 gelas air sehari sedangkan remaja putri sekitar 7-8 gelas sehari.
Penyakit infeksi adalah salah satu penyebab langsung status gizi yang kurang optimal, termasuk anemia. Jika seseorang mengalami penyakit infeksi, akan membutuhkan lebih banyak energi dan asupan gizi untuk melawan penyakit. Agar terhindari dari berbagai penyakit infeksi seperti kecacingan, maka perilaku hidup bersih harus terus menerus dilakukan, seperti:
Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk olahraga merupakan salah satu upaya untuk menyeimbangkan
antara pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanya sumber energi dalam tubuh.
Aktivitas fisik memerlukan energi, memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme zat gizi.
Dengan demikian, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan zat gizi yang keluar dari dan yang masuk ke dalam tubuh.
Mempertahankan berat badan normal memungkinkan seseorang dapat mencegah berbagai penyakit tidak menular.
Bagi orang dewasa salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah terjadi keseimbangan zat gizi di dalam tubuh
adalah tercapainya berat badan yang normal, yaitu berat badan yang sesuai untuk tinggi badannya sedangkan pada remaja.
penilaian status gizi ditentukan dengan membandingkan antara Indeks Masa Tubuh (IMT) dengan usia.
Berikut rumus untuk mengukur Indeks Masa Tubuh:
Suplementasi gizi merupakan penambahan makanan atau zat gizi untuk mendukung pemenuhan kecukupan gizi.
Suplementasi gizi untuk ibu hamil diberikan dalam bentuk makanan tambahan dan Tablet Tambah Darah (TTD),
sementara bagi remaja putri dan wanita usia subur/WUS diberikan TTD.
Suplementasi sangat penting dilakukan terutama pada saat tubuh memiliki kebutuhan zat gizi mikro yang tinggi
dan tidak dapat dipenuhi dari asupan makanan saja.
Fortifikasi adalah upaya meningkatkan mutu gizi makanan dengan menambah pada makanan tersebut satu atau lebih zat gizi mikro tertentu. Fortifikasi zat besi yang telah dilakukan secara nasional adalah fortifikasi tepung terigu.